Minggu, 28 Desember 2014

Saatnya Peternak Sapi Gunakan Pakan Berfermentasi

Editor : Nanda Adisa


Ternak sapi saat ini prospeknya menjanjikan selain harga daging sapi yang kian meroket juga teknik pemeliharaan juga makin maju. Selain pembuatan kandang yang bagus, pemberian pakannya juga mengalami peningkatan dari segi kualitas. Dulu sapi hanya diberi pakan hijauan saja seperti rumput, jerami dan dedaunan.

Namun saat ini bahan seperti onggok bekas reside tepung aren, janggel jagung sampai kulit kopipun dapat dipergunakan untuk bahan pakan sapi. Selain itu masih ada lagi limbah makanan yang bisa dipergunakan untuk pakan sapi seperti ampas tahu, sedangkan rumput dan jerami tetap di sediakan namun jumlahnya tidak banyak.Sedangkan agar nafsu makan sapi lebih bagus untuk sapi baru disediakan tetes tebu.

"Dulu orang beternak sapi seperti ini rumput yang saya sediakan cukup banyak dan harus menyediakan gudang rumput. Namun meski saat ini saya memelihara 25 Sapi namun tidak perlu tenaga banyak cukup hanya 2 orang saja karena kebutuhan rumput tidak begitu banyak," kata Heru Wijanarko, warga desa Bandengan kecamatan Kota yang sudah 4 tahunan membuka usaha peternakan sapi .

Heru mengatakan, sebelum mencoba beternak sapi usaha yang dijalani diantaranya pembuatan minyak nilam, kelapa sawit dan usaha rumahan lainnya. Melihat daging sapi yang mempunyai nilai jual tinggi iapun kemudian mencoba membuka usaha baru ternak sapi.

Awalnya ia mencoba beternak sapi maksimal 10 ekor setiap periodenya , karena cukup prospektif kini iapun berani menambah hingga 25 ekor. Bibit-bibit sapi asalan ia peroleh dari desa-desa sekitar Jepara, selain itu ia juga menerima sapi dari para pengepul di luar kota.

"Ya untuk usaha penggemukan sapi asalan kita beli berkisar Rp 7,5 juta,“ Rp 8,5 Juta tergantung kualitas. Setelah kita pelihara dan gemukkan selama 3 sampai 4 bulan nilai jual sapi akan naik setiap ekornya kita jual bervariasi antara Rp 10 sampai 12,5 juta . Dengan harga itu kita sudah bisa mengantongi keuntungan yang lumayan", ujar Heru.

Mengenai pakan fermentasi ramuannya, selain rumput dan jerami bahan-bahan yang bisa dipergunakan untuk pakan diantaranya jenggel jagung, onggok , ampas tahu. Bahan-bahan itu dicampur jadi satu lalu ditambah dengan tepung ikan dan bahan fermentasi EM4 ditambah air lalu dimasukkan dalam tong plastik. Setelah itu tong ditutup rapat bagian atas lalu dibiarkan selama 24 jam setelah itu dibuka dan dicampurkan pakan langsung bisa diberikan pada sapi.

Untuk menghemat waktu dan biaya pembuatan pakan bisa dalam jumlah banyak misalnya 5 sampai 10 tong pakan untuk persediaan.Setelah jadi pakan pakan itu bisa tahan hingga 4 bulan asal wadahnya ditutup dengan baik. Oleh karena itu dikandang sapinya tersedia puluhan tong-tong plastik yang penuh dengan pakan fermentasi.

"Keunggulan pakan fermentasi ini adalah dari segi kualitasnya, jika kita beri pakan rumput atau hijauan lain . Sapi kelihatannya gemuk karena pakan basah terlalu tinggi namun hasil dagingnya kecil. Sebalinya jika kita beri pakan ini meski sapi kelihatan tidak begitu gemuk namun jika ditimbang bobotnya akan lebih tinggi," papar H. Heru.

Oleh karena itu bagi para peternak tradisional rumahan Heri menyarankan untuk beralih ke pakan fermentasi ini selain bahannnya mudah didapatkan juga ongkosnya tidak begitu tinggi dan bisa memanfaatkan limbah hasil pertanian. Seperti onggok misalnya kita hanya menyediakan transport ambil, kulit Kopi juga demikian bahkan jenggel Jagung yang sering dibakar bisa digiling untuk campuran pakan sapi.

pihaknya dengan tangan terbuka menerima para peternak yang ingin belajar dan ngangsu kawruh tentang pemeliharaan sapi ini. Selain mempelajari tehnik pemeliharan, pembuatan kandang bisa juga melihat bagaimana cara membuat pakan fermentasi. Bahkan ke depan pihaknya akan membuka diri memelihara sapi dengan sistem plasma dengan warga masyarakat.

"Saya yakin usaha ternak sapi ini masih prospektif oleh karena itu saya berencana menitipkan sapi pada warga masyarakat dengan sistem bagi hasil. Melihat kapasitas kandang saya yang tidak muat lagi," tukas Heru.

Artikel ini ditulis oleh : Fatkhul Muin 


Sumber : http://www.merdeka.com/ireporters/peristiwa/saatnya-peternak-sapi-gunakan-pakan-berfermentasi.html

10 komentar:

  1. Artikelnya lumayan bagus untuk mengembangkan peternakan di Indonesia. Untuk blognya pun terlihat rapih dan menarik. Semoga diperbanyak lagi artikel-artikel bermanfaatnya ya agar bisa membantu orang lain baik di bidang peternakan atau IT atau yang lainnya

    BalasHapus
  2. wahh artikelnya bagus, makasih infonya, infonya bisa jadi inovasi buat peternak
    tampilan blognya bagus, cuman kurang sedikit pernak-pernik buat tambah mempercantik blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih kembali agan Sang Entelemi, tujuan kita membuat blog ini juga karena ingin memajukan Peternak Indonesia agar peternak dapat menciptakan swasembada daging... untuk pernak-perniknya, kita awal mula membuat blog ini juga ingin menampilkan pernak-pernik yang banyak dan kreatif seperti yang Anda maksud tetapi pada dasarnya kita ingin blog kita ini ingin menampilkan dominasi artikel-artikel saja... bila pernak-perniknya banyak, kita takutnya malah pembaca tidak fokus ke artikel yang kita tampilkan... terimakasih masukannya :)

      Hapus
  3. waaaah kereeen ,bermanfaat banget hehe
    sukses yaa

    BalasHapus
  4. Bagus nih artikel, cuma harus bisa diaplikasikan ke kehidupan nyata saran saya. Semoga nanti kalian penerus bisa membantu dunia peternakan di negeri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. sebetulnya peternak di Indonesia dari peternak tradisional sampai peternak modern sebagian besar sudah menerapkan pakan fermentasi ini... Saya pernah dengar curhatan dari temen saya, bahwa dia menerapkan pakan fermentasi ini di dombanya, tetapi pas saat dia mengirim domba ke konsumennya, pada saat perjalanan menuju konsumen, domba tersebut berat badan menyusut sampai 3 Kg,, nah ini menjadi PR buat kita bagaimana mengatur dan mengontrol pemberian pakan fermentasi ini ke ternak kita.

      Hapus
  5. Kalo backgroundnya hijau muda gmn? Atau tosca mungkin? Biar kalo baca ga bosen hehe maaf sekedar saran :)

    BalasHapus